CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Sunday, November 29, 2009

Tarbiyyatun Nafs..

Artikel ini dipetik dari taujih ke-4 dari 5 taujih Ruhiyah oleh Said Hawwa.. Untuk diri sendiri yg selalu Rapuh.. dan juga utk dikongsi sama2..


4. Kesabaran Aktivis Dakwah

Wahai para aktivis dakwah…
Sabar merupakan kekuatan jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perlawanan terhadap kemalasan, kelemahan, kelesuan, dan penyerahan. Sabar mengantarkan kepada ketabahan dan ketegaran dalam menghadapi cobaan yang menimpa hingga Allah menjadikan syahid dalam keadaan redha atau diredhai.
Hendaknya seorang aktivis selalu siap menghadapi berbagai kenyataan dan kendala yang mungkin terjadi. Diantaranya,
• Seorang aktivis harus siap menghadapi kemungkinan berbagai tuduhan bohong. Propaganda batil yang dilancarkan kepadanya, sikap sinis, dan meremehkan sehingga menyudutkan seruan dakwah.
• Seorang aktivis harus siap menghadapi kemungkinan berbagai tentangan yang menghadangnya berupa penjara, pencekalan atau seksaan, baik yang menyangkut harta kekayaan maupun yang menimpa jiwanya.
• Seorang aktivis harus siap menghadapi kemungkinan risiko yang bakal diderita berupa pemecatan dari jabatan dengan segala fasilitasnya, atau pemutusan kerja dan pencabutan dari berbagai sumber kehidupan.
• Seorang aktivis harus siap menghadapi kemungkinan berbagai ligkungan tentangan di linkungannya, dalam bentuk isolasi dari masyarakat atau keluarganya, bahkan sampai pengusiran dari kampong halaman atau negerinya.
• Sorang aktivis harus siap menghadapi kemungkinan berbagai tipu daya dan bujukan yang akan melumpuhkan perjuangannya. Mulai dari kedudukan dan jabatan, harta kekayaan dan status social yang membanggakan, sampai kepada wanita-wanita cantik yang menggiurkan.
• Seorang aktivis harus siap menghadapi segala kemungkinan perngoraban jiwanya, iaitu gugur sebagai syuhada demi Din Islam dan tegaknya kalimatullah hiyal ‘ulya di atas bumi.

Bila seorang aktivis telah mempersiapkan semua itu, akan hilanglah perasaan ragu-ragu apalagi putus asa atau terpesona dengan berbagai tipu daya, tidak akan pernah lari dari setiap Kendala yang menghadang, betapapun beratnya. Para aktivis menyedari bahawa hal yang demikian adalah tabiat jalan dakwah yang harus dilalui, sunatullah yang harus dijalani.

Cukuplah bagi kita, teladan yang telah dieberikan oleh perintis dakwah, panglima dakhwah, sang qudwah, Rasulullah saw.. Teladan tentang kesabaran dan derita yang Beliau tanggung cermin yang teramat indah bagi seorang aktivis dalam menghadapi berbagai cubaan dakwah.

Cubaan yang bagaimanakah yang dialami oleh Rasulullah saw. dalam menyampaikan risalah yang penuh ‘izzah ini?

Wahai para aktivis dakwah…

Kaum musyrikin Makkah kala itu telah menempuh berbagai cara guna melancarkan gangguan dan seksaan untuk membendung dakwah Beliau dalam menyampaikan risalah Islam. Namun, Beliau tidak pernah berhenti apalagi menyerah.

Mereka menggunakan cara licin dan yang palig halus berupa rayuan dengan harta, kedudukanm dan takhta. Namun Beliau tidak pernah berhenti dan menyerah.
Mereka menempuh cara licik dan picik, iaitu dengan memecah belah keluarga Beliau dan menjauhkan dari para pengikut dan kabilahnya. Namun Beliau tetap tidak pernah berhenti dan tidak pernah menyerah.

Mereka melakukan cara yang keras dan kasar, iaitu dengan cara melontarkan ejekan, penghinaan, dan sampai kepada tuduhan-tuduhan keji tanpa alasan. Namun Beliau pun tidak pernah berhenti dan tidak pernah pula menyerah.

Mereka menempuh jalan biadap di luar kemanusiaan iaitu dengan melakukan embargo ekonomi secara total termasuk orang-orang yang belum mendukung dakwah Beliau. Namun Beliau juga tetap tegar dan tidak pernah tergoyahkan sedikit pun.
Akhirnya, mereka menempuh jalan tipu daya dan ancaman pembunuhan terhadap Beliau. Namun, Maha suci Allah, Beliau tetap tegar dan tidak pernah surut sedikit pun dari jalan dakwah.

Sesudah Allah swt. memberi izin kepada Rasulullah untuk berhijrah ke Madinah, mereka pun terus memeranginya dengan mengirim pasukan ekspedisi bersama pasukan perangnya untuk menumpas dakwah Beliau dan para pengikutnya. Namun hal itu tidak pernah membuat surut dari perjuangannya. Beliau hadapi ujian itu dengan penuh kesabaran. Perjuangan tidak akan pernah berhenti walau berbagai rintangan menghadangnya hinggga Allah swt. memberikan kemenangan berupa pertolonganNya. Pada saat itu manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.

Oleh kerana itu, wahai para aktivis dakwah…

Sudah sepatutnya aspek perjalanan Panglima Dakwah itu dijadikan sebagai tuntunan dan teladan bagi setiap aktivis yang ingin membangun umatnya menjadi umat yang mulia, umat yang terhormat, dan umat yang memilki harga diri.
Allah swt. berfirman,

”Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab : 21)

Wahai para aktivis dakwah…

Sudah menjadi sunatullah bagi para penyeru risalah Din akan menghadapi berbagai cubaan dalam melaksanakan tugas dakwahnya untuk membimbing umat menuju yang haq ‘benar’, baik cubaan fizik mahupun psikis. Semua terjadi kerana setiap aktivis bertugas mengubah kenyataan kehidupan social yang begitu kompleks. Para aktivis harus menghadapi kelompok pendurhaka dan kelompok penguasa zalim. Para aktivis akan menghadapi masyarakat yang peri kehidupannya telah rosak. Mereka tidak hanya mengurusi orang-orang mukmin dan orang-orang yang terikat dengan perjanjian semata.

Demikianlah tabiat jalan dakwah. Jalan yang harus dirtempuh dengan bergulat meghadapi berbagai kendala. Dengan demikian seorang aktivis semakin menyedari tabiat dirinya sebagai aktivis. Al-Qur’an dengan jelas memberikan gambaran terhadap tabiat mereka,
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:

"Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut : 2-3)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah : 214)

“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman : 17)

Dalam suatu kesempatan Rasulullah saw. bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim dari Sa’ad bin Waqash. Ia berkata,
“Kelompok manusia manakah yang paling berat cubaannya?” Beliau menjawab, ‘(Iaitu) para Nabi, kemudian (orang-orang) yang setingkat, lalu (orang-orang) yang setingkat (lagi). Seseorang akan dicuba menurut (kadar) keimanannya. Jika kadar keimanannya kuat maka cubaannya kuat. Dan jka keimanannya lemah, maka Allah pun mencubanya menurut kadar keimanannya yang lamah itu. Jadi cubaan itu tetap menyertai seseorang, sehingga ia membiarkannya di atas bumi ini. Sedang atasnya tiada satu kesalahan pun.”

Imam Muslim dalam kitab shahihnya, meriwayatkan bahawa Rasulullah saw. telah bersabda,

“Tertutup syurga itu dengan (hal-hal) yang tidak disukai, dan tertutup neraka itu dengan hal-hal yang menyenangkan.” (h.r. Muslim)

Dalam kesempatan yang lain ketika kaum musyrikin semakin gencar melakukan intimidasi kepada muslimin yang masih lemah iman datanglah di antara kaum muslimin itu kehadapan Rasulullah seraya berkata,
“Mengapa anda tidak (segera) memohon pertolongan untuk kami? Mengapa anda tidak berdoa untuk kami? Beliau lalu bersabda, ‘Sungguh dahulu sebelum kamu, pernah seseorang diseksa. Iaitu digalikan lubang untuknya, lalu ia ditanam di dalamnya. Ada lagi disiapkan gergaji, lalu diletakkan di atas kepalanya sehingga terbelah menjadi dua bahagian. Ada pula yang disisir badannya dengan sisir dari besi, sehingga daging dan tulangnya terbawa. Namun, (seksa) itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah akan menanggulangi urusan ini, sehingga seorang pengendara dari (negeri) Shan’a menuju Hadhramaut, tidak takut (sedikit pun) melainkan kepada Allah, dan serigala (terus menjaga) atas dombanya. Tapi saying, kamu sekalian tergesa-gesa, tidak tahan uji!’.” (h.r. Bukhari)

Kesabaran Generasi Sahabat

Wahai para aktivis dakwah…
Generasi pertama (generasi sahabat dan orang-orang yang mengikut jejaknya), memahami benar pesan-pesan Al-Qur’an dan taujih Rasulullah saw. tentang persiapan yang harus dimiliki oleh seorang aktivis dakwah. Iaitu keharusan agar berjiwa tabah, tegar, dan tahan uji dalam menghadapi berbagai cubaan dan rintangan yang menghadang. Bagi mereka, seorang aktivis adalah peribadi-peribadi yang tidak pernah gentar menghadapi tentangan, jiwa-jiwa yang memilki aqidah tangguh, tidak pernah grogi dan pantang mundur, tabah menanggung derita dalam kondisi dan situasi bagaimana pun.

Para sahabat memahami betul bahawa dirinya adalah seorang muslim yang mengemban misi. Sebagai seorang aktivis yang memiliki tanggungjawab dan sekaligus berperan sebagai seorang mujahid dalam kehidupannya. Mereka selalu siap ke medan dakwah untuk menyeru ke jalan Allah swt., tanpa dibayangi rasa takut sedikit pun terhadap tentangan-tentangan yang menghadangnya, sebagai risiko dari seruannya. Hanya redha Allah sematalah yang mereka cari dan yakin akan pertolongan Allah swt.

Dalam kesempatan ini, wahai para aktivis dakwah…

Kita mencuba memahami sejarah perjalanan hidup mereka, supaya dapat kita ketahui dengan jelas bagaimana cubaan dan derita yang dialami oleh para pendahulu kita, mujahid dakwah dari kalangan para sahabat Rasulullah saw. dalam mengemban risalah Islamiyah, dakwah rabbaniyah. Harapan kita supaya kita dapat meneladani kesabaran dan ketegaran mereka, mengikuti jejak mereka dalam ketulusan pengorbanan, dan keteguhan hati. Dengan demikian dakwah yang kita serukan makin marak.

Adalah tugas seorang aktivis mengembalikan ‘izzah Islam di panggung masyarakat dunia, dengan ruh jihad hingga terbentuk Daulah Qur’aniyah, yang bersatu di bawah naungan Islam.

Di antara mujahid dakwah dari kalangan para sahabat Rasulullah saw. di antaranya,

Bilal bin Rabbah

Beliau adalah sahabat Rasul yang luar biasa. Seorang budak dari negeri Habsyi. Setelah kebenaran Islam merasuk ke dalam jiwanya, beliau ukir kehidupannya ke arah yang gemilang dengan nur Islam. Beliau memiliki ketabahan dan keteguhan hati laksana baja. Dalam perjalanan dakwah Islamnya, beliau telah mengalami berbagai seksaan dan setiap kali seksaan itu datang mendera beliau.

Suatu hari batu yang besar dan panas itu dihempaskan di atas punggungnya. Di tengah terik matahari padang pasir yang membakar itu beliau disuruh memilih; tetap menanggung derita seksa atau melepaskan Islam. Sahabat yang kemudian dikenal dengan muadzin Rasul ini tetap teguh pada jalan Islam. Bahkan semakin tegar dan kukuh dengan keimanannya. Kalimat, “Ahad, Ahad Fardhu Shamad” senantiasa beliau ucapkan di tengah intimidasi para musuh Islam itu.

Begitulah, Bilal bin Rabah. Cubaan yang berupa seksaan, beliau hadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan.




Keluarga Amar bin Yasir

Sungguh! Keluarga Amar bin Yasir adalah teladan umat. Amar, ibunya –Sumayyah- dan ayahnya –Yasir-, memiliki andil yang cukup besar bagi perjalanan dakwah Islamiyah. Mereka telah mendapat seksaan yang menurut ukuran manusia amatlah mustahil untuk tetap istiqamah. Iaitu ketika majikannya (keluarga Bani Makhzum), mengetahui bahawa keluarga Amar bin Yasir telah masuk Islam, kemudian menimpakan berbagai seksaan yang amat pedih kepada keluarga Amar. Dipaksanya anak beranak itu untuk keluar dari Islam, kemudian kembali kepada agama berhala yang penuh kekufuran.

Suatu hari, di saat matahari padang pasir tengah membara, di sebuah lapangan terbuka di kawasan kota Mekkah, satu keluarga itu tengah menerima seksaan yang tak terperikan. Berhari-hari lamanya seksaan itu telah mereka derita. Tatkala Rasulullah saw. berlalu dari hadapan keluarga itu, tiba-tiba terdengarlah rintihan Yasir dalam keadaan terbelenggu kedua tangan dan kakinya, “Adakah derita ini sepanjang masa?” Segera Rasulullah menengadah ke langit saraya berseru, “Wahai keluarga Yasir, bersabarlah. Bergembiralah kamu. Sesungguhnya syurga telah dipersiapkan sebagai tempat kembali keluargamu.” Mendengar seruan Nabi tersebut, keluarga Yasir menjadi tenteram jiwanya dan kian tabah dalam menghadapi ujian.

Datanglah Abu Jahal la’natullah. Dimintanya keluarga itu untuk memilih antara mati syahid ataukah dibiarkan hidup bersama rakannya dengan meninggalkan ajaran Muhammad saw. dan kembali menganut agama nenek moyangnya. Akhirnya, keluarga itu pun tetap berpihak pada ajaran Muhammad saw.. Gugurlah Sumayyah sebagai saksi atas kebenaran yang diyakininya. Sebagai wanita pertama yang menyandang gelar sebagai syahidah atas Din Islam ini. Disusul suaminya, Yasir sebagai lelaki pertama yang bergelar sebagai syuhada.

Sementara Amar, anak mereka tetap bergulat menanggung seksaan. Ia tetap berupaya menanggung seksaan itu betapa pun pedihnya. Namun ia tetaplah sebagai manusia. Sesungguhnya seksaan yang ia terima sungguh telah melampaui batas kemanusiaan, hingga tanpa sedar Amar pun mengucapkan kata-kata kekufuran sebagai upaya untuk melepaskan seksaan yang ia derita. Sungguh ia bersedih dengan ucapan itu, walaupun dalam hatinya tetap meyakini sepenuhnya akan kebenaran Islam. Pada saat itu turunlah kebenaran Allah swt.,

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa) …” (An-Nahl : 106)

Mush’ab bin Umair

Ia lahir dan tumbuh dari keluarga terpandang dan kaya raya. Sejak muda sudah terbiasa hidup dalam kemewahan. Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqah meriwayatkan kisah keislamannya.

Adalah Mush’ab bin Umair, seorang pemuda yang berpenampilan tampan lagi simpatik. Kedua orang tuanya sangat mencintainya. Terutama ibunya, yang senantiasa memenuhi segala kehendaknya. Pada saat itu dia adalah susuk pemuda Mekkah yang paling elit dalam berpakaian dan wangi-wangian.

Suatu hari, saat Rasulullah saw. berada di rumah Arqam bin Abi Arqam, tempat yang selalu dijadikan pusat pertemuan antara Nabi dan Sahabat beliau, hadirlah Mush’ab bin Umair. Rasulullah pun mengajaknya untuk masuk Islam dan Mush’ab bin Umair tidak menolaknya. Sejak itu Mush’ab bin Umair sering hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Rasul di rumah Arqam tersebut.

Mush’ab memang sengaja tidak memperlihatkan keislamannya terhadap keluarganya yang sangat membenci kebenaran Islam. Namun lama kelamaan terbukalah jua rahsia keislaman yang selam ini ia sembunyikan. Mush’ab mulai mendapatkan permusuhan dari keluarga dan kerabatnya. Mereka menyeksa dan menyekap Mush’ab dalam waktu yang lama.
Ketika berita sampai ke Mush’ab, bahawa kaum muslimin berhijrah ke negeri Habasyah maka Mush’ab pun segera melarikan diri dan ikut berhijrah ke negeri Habasyah. Ia tinggalkan keluarganya yang banyak memberikan kemewahan hidup demi kecintaannya pada Rasul dan ajarannya walaupun harus menderita.

Demikian halnya ketika ada seruan untuk hijrah ke Madinah sebagaimana Khabbab bin Al-Art menceritakan, “Kami harus berhijrah bersama Rasul ke Madinah demi mengharap redha Allah. Di antara kami ada yang tetap tabah walau harus menderita berhari-hari menahan lapar, termasuk Mush’ab bin Umair. Penderitaan senantiasa menyertai Mush’ab bin Umair hingga gugur sebagai syuhada dalam perang Uhud. Untuk mengafaninya tiada selembar kain pun kecuali sebuah purdah (selendang) pendek yang bila ditutupkan di atas kepalanya, tampaklah kedua kakinya, dan bila ditutupkan di atas kedua kakinya, tampaklah kepalanya. Akhirnya oleh Rasulullah saw. ditutupkanlah kakinya dengan daun idzkir.”

Sungguh Rasulullah telah mewaqfkan Mush’ab bin Umair dalam perang Uhud. Ia gugur sebagai syuhada dengan berkafan selembar furdah. Dengan berlinang air mata Rasulullah saw. bersabda,
“Sungguh sejak aku melihat engkau di Mekkah, tiada seorang pun yang lebih mewah dalam berpakaian. Tiada seorang pun yang lebih tampan daripadamu dalam berpenampilan. Tapi kemudian engkau gugur dalam keadaan yang demikian rupa, dan hanya dibungkus dengan selembar purdah yang pendek.”

Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah swt.,
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” (Al-Ahzab : 23)

Wahai para aktivis dakwah…

Jangan ragu lagi semua kenyataan itu merupakan buah dari keimanan, cermin dari ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., sebagai perintis dakwah, panglima dakwah. Beliau telah memberikan keteladanan yang terbaik dalam kesabaran dan ketabahan juga dalam perjuangan dan pengorbanan.

Jejak Rasulullah telah diikuti oleh para sahabat, generasi tabi’in, demikian terus diikuti oleh penegak Din Islam hingga sekarang. Ada Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah, Mundzir bin Sa’id, Said bin Al-Musayyib, Wali bin Thawus, Hasan Al-Banna, Sayyid Qutbh, Asy-Syeikh Marwan Hadid, Asy-Syeikh Abdul Aziz Al-Badri, Asy-Syeikh Muwaffaq Sirajiyah, dan masih ratusan lagi bahkan ribuan lagi. Mereka telah memberikan teladan yang sangat indah dalam mewujudkan kesabaran, ketabahan, keberanaian, dan ketegaran dalam berdakwah. Semoga Allah merahmati mereka dan menempatkannya dalam kedudukan yang terhormat serta senantiasa dilimpahkan kesejahteraan yang kekal atas mereka. Amin.

Semua itu merupakan ‘ibrah ‘pelajaran’ bagi para aktivis dakwah, bahawa orang-orang yang telah mempertaruhkan dirinya untuk berdakwah, tidak boleh tidak, ia akan berhadapan dengan berbagai rintangan, ujian, dan cubaan serta kesulitan dan penderitaan. Sekali lagi, hal itu telah menjadi sunatullah yang tidak bisa ditawar lagi.

Adalah keliru, jika orang beranggapan bahawa jalan dakwah itu selamanya licin dan lapang, penuh taburan bunga, taburan senyuman, dan tepuk tangan. Sungguh keliru! Selamanya tidak demikian. Bahkan setiap aktivis harus menyedari bahawa jalan dakwah penuh ancaman dan seksaan dari orang-orang yang zalim.

Oleh kerana itu, sudah sepatutnya jika seseorang aktivis harus membekali diri dengan kesabaran, ketabahan, kesiapan dalam menghadapi penderitaan dengan tekad yang membaja. Tanpa itu semua dikhuatirkan seorang aktivis akan mudah futur manakala cubaan dating menghadang. Yang lebih fatal bila ia berpangku tangan bersama orang-orang yang benci dan frustasi terhadap dakwah.

Betapa indah wahai para aktivis, syair yang digubah oleh Ath-Thaghrai ini,

Cinta keselamatan sikap terpuji
Tetapi harus didukung oleh semangat yang tinggi
Sayangnya orang lebih suka hidup santai
Bila anda cenderung untuk memburunya
Maka, Anda harus mempersiapkan dana di bumi
Atau, Anda persiapkan tangga di udara
Lalu, berangkatlah!

Sementara Abu Thayyib Al-Muttaanabbi, berkata dalam syairnya,

Anak cucuku,
Aku telah mencapai ketinggian puncak
Kesulitan ada pada ketinggian,
dan kemudahan ada pada kerendahan
Anda ingin mencapai ketinggian dengan mudah?
Tidak mungkin!
Tanpa perjuangan melawan sengat lebah

Dan seorang penyair lagi berkata,

Bila keinginan-keinginan itu besar
maka tubuh-tubuh pun payah dalam meraihnya

Artikel ini dipetik dari taujih ke-4 dari 5 taujih Ruhiyah oleh Said Hawwa..

Jasa Bonda

Ah, hampir genap tiga tahun di rantau orang.. According to aggravated calculation.. 2008,2009 n sebulan lebih lagi 2010.. Apa aku tidak rindu keluarga aku? Fikir aku sendiri..

Aku merindui segenap keluargaku.. Umi, Abah, dari Along sampai Adik.. dan tak lupe pada kakak ipar baru.. Kak Meedi.. Namun paling rindu tentunya pada Umi.. (^^,)

Dari Abu Hurairah r.a. katanya..
"seorang lelaki bertanya kpd Rasulullah SAW,Ya Rasulullah, siapakah dari keluargaku yg paling berhak dengan kebaktianku yang terindah?
jawab Baginda:
"ibumu!!...
kemudian ibumu...
kemudian ibumu...
kemudian bapakmu,
kemudian yg terdekat kepadamu,yang terdekat,"
Riwayat Sahih Muslim.


Umi.. sometimes, i dream of you.. Bcoz i'm anak umi.. n the latest mimpi, we are having meal together with Adik.. I just can't imagine my life without an Umi like you.. Proudly said 'Best umi in my world'.. Why only my world? Bcoz other have their own definition of 'Best Umi'..

Even so, i'm not so keen, n just not so comfortable when reading news like 'Anak derhaka do this n that...'..

Minggu lepas kalau tak silap, tgk paper online.. Seorang anak bekerjasama dengan 2org sepupunya utk membunuh ayah n ibunya.. Adei..

Dan juga kisah2 seperti ini..

Subject: Kisah benar penghuni Sidim: Anak derhaka Fri Jul 13, 2007 2:42 pm
Setiap kemahuan perlu dituruti, manakala bangkangan pula menyebabkan anak mengamuk dan bertindak ganas

TIDAK cukup mengherdik ibunya dengan panggilan ‘anjing’ dan bapanya ‘b*b*’, seorang pelajar berusia 16 tahun menendang kepala bapanya ketika sujud di sejadah hanya kerana makanan tidak disediakan sekembalinya daripada berfoya-foya dengan rakan.






Seorang lagi anak kurang ajar mengugut untuk mengebom ibunya jika dihantar ke pusat pemulihan berikutan terjebak dengan satu kumpulan samseng yang cenderung kepada kegiatan hiburan dan dadah.

Manakala seorang penuntut universiti yang menghadapi masalah halusinasi akibat pembabitan dengan satu kumpulan muzik bawah tanah yang tidak mempercayai Tuhan dan dadah, ‘terlupa’ bahawa ibu bapanya masih hidup sehingga tidak menziarahi mereka untuk tempoh lama.

Ini bukan filem, sebaliknya kisah benar yang diceritakan tiga penghuni Rumah Sahabat Insan dan Iman Malaysia (Sidim) di Kuala Kubu Bharu, Selangor kepada wartawan Metro Ahad, ZAINUDDIN ZAIN dan FUAD HADINATA YAACOB mengenai perlakuan derhaka mereka terhadap ibu bapa sendiri.

Kes 1

(Azman, 16, Kedah)

“SYURGA di bawah tapak kaki ibu. Ayah pula ketua keluarga yang kita perlu hormati dan jaga perasaannya. Namun saya bukan saja derhaka, tetapi bersikap kurang ajar dengan insan yang melahir dan menjaga saya sejak lahir.

Akibat terpengaruh dengan sebuah kumpulan muzik bawah tanah dan kegiatan hidu gam, saya menjadi liar dan hilang akal. Setiap kemahuan saya perlu dituruti, manakala bangkangan pula menyebabkan saya mengamuk dan bertindak ganas.

Biasanya saya terbabit dengan pergaduhan berkumpulan di luar rumah, bukan bertindak ganas ke atas ibu bapa. Bagaimanapun, pada hari itu saya ‘lalok’ (khayal) akibat hidu gam berlebihan, menyebabkan saya bertindak di luar kawalan.

Apabila pulang ke rumah dalam keadaan lapar, saya terus menjadi berang apabila mendapati tiada makanan di bawah tudung saji lalu naik ke tingkat atas dan mendapati ibu bapa menunaikan solat Isyak berjemaah.

Melihat keadaan mereka menyebabkan marah saya membuak-buak lalu saya menjerit ‘anjing’ ke arah ibu dan ‘b*b*’ kepada bapa.

Namun mereka tidak membalas, sekali gus menjadikan saya lebih marah lalu terus menendang kepala bapa yang ketika itu sujud.

Akibat tendangan kuat, bapa tergolek daripada tikar sembahyang.

Ini menjadi titik tolak kepada kesabaran keluarga saya yang akhirnya mengambil keputusan menghubungi Ustaz Hanafi Abdul Malek (Pengerusi Yayasan Sidim) untuk bantuan.

Akhirnya saya ‘diangkut’ (dibawa pergi) dan ditempatkan di Rumah Sahabat Sidim untuk pemulihan.

Alhamdulillah, semua yang berlaku ada hikmahnya. Walaupun dosa saya terlalu besar kepada ibu bapa, mungkin berkat doa dan kasih sayang mereka, Allah SWT membuka hati saya untuk kembali ke jalan-Nya.

Saya berjanji akan menjadi anak yang lebih baik pada masa depan.

Semua yang berlaku akan menjadi kenangan paling pahit dalam hidup saya.

Mungkin ibu bapa saya dapat memaafkan, tetapi menendang kepala bapa sendiri, ia akan menjadi mimpi paling buruk dalam hidup saya. Saya sungguh kesal.”

Kes 2

(Tahir, 18, Kuala Lumpur)

“IBU adalah ‘bank bergerak’ saya. Setiap kali perlukan wang, saya mendesak dan kadangkala mengugut ibu apabila dia sukar memberi apa yang saya hendak. Saya juga banyak mencuri dan menjual barangan kemas ibu.

Sekalipun tidak bekerja, akibat hidup mewah daripada aktiviti ‘memeras’ ibu, saya ada banyak masa untuk melepak dan mula bergaul dengan kumpulan samseng. Malah, saya menjadi ‘anak emas’ pemimpin kanan kumpulan kerana sering menaja mereka berhibur dan aktiviti dadah.

Bagaimanapun, satu hari ketika kami ingin berhibur ke Genting Highlands dan saya meminta wang daripada ibu, dia enggan memberinya. Puas saya menggertak dan mengganas, termasuk memecahkan barangan dalam rumah, tetapi ibu tetap berdegil.

Klimaks kepada perasaan marah saya, saya mengugut akan mengebom ibu jika tidak memberi wang. Malah, selepas jasad ibu berkecai dan saya menemui tengkorak kepalanya sekalipun, saya akan bom sekali lagi supaya hancur dan lumat.

Akhirnya ibu mengalah, tetapi pada masa sama dia menghubungi Rumah Sahabat Sidim tanpa pengetahuan saya. Mungkin ibu dapat melihat yang saya tidak dapat diinsafkan walaupun melalui kasih sayang yang cuba ditunjukkannya.

Sekembali saya, saya melihat Ustaz Hanafi menunggu. Saya menjadi berang terhadap ibu dan pada masa sama mengugut ustaz supaya tidak masuk campur.

Malah, saya mengugutnya dengan mengatakan dengan hanya satu panggilan, 200 geng saya akan datang ke rumah saya untuk membelasahnya.

Ustaz mempersilakan saya berbuat demikian (menghubungi geng). Beberapa minit kemudian beberapa ‘sahabat’ saya turun untuk membantu menghalang saya daripada dibawa pergi ke Rumah Sahabat Sidim.

Bagaimanapun, saya hairan kerana selepas bercakap sesuatu dengan ustaz, rakan saya berlalu pergi.

Rupa-rupanya dia bukan calang-calang orang dan terkenal dalam dunia persilatan dan kebajikan sosial.

Namun, tempoh tiga bulan menjalani pemulihan di Rumah Sahabat Sidim nyata memberi kehidupan baru kepada saya.

Saya mula mengenal agama dengan lebih mendalam dan menghargai hubungan kekeluargaan dan orang tua saya.”

Kes 3

(Fauzi, 22, Kelantan)

“SAYA tidak ingat berapa lama saya tidak mencium tangan ibu bapa berikutan ada di dalam ‘dunia’ sendiri akibat pembabitan dalam kumpulan muzik bawah tanah yang tidak percaya wujudnya Tuhan, selain bergelumang dengan dadah.

Saya bukan saja tidak pulang ke kampung, tetapi ibu bapa juga tidak dapat mencari saya berikutan saya tidak lagi pergi ke kuliah akibat terlalu sibuk dengan dunia ciptaan syaitan.

Bagaimanapun, menurut ibu, dia terbaca mengenai kisah Rumah Sahabat Sidim di akhbar dan meminta pertolongan Ustaz Hanafi yang kemudian bersama beberapa rakannya berjaya menjejaki saya dan membawa ke sini (Rumah Sahabat Sidim).

Keadaan saya mula-mula memang kritikal. Saya membuang air besar dan kecil tanpa sedar. Malah, saya beberapa kali membuang air besar di atas sejadah ketika orang lain bersembahyang. Semuanya berlaku di luar kawalan.

Masalah halusinasi saya juga kritikal. Berikutan pernah terjebak dengan aktiviti memijak al-Quran, jari kaki saya menjadi sedikit terdengket.

Ramai pelik melihat cara saya berjalan, tetapi saya berdengket kerana melihat ada manusia kecil di bawah dan cuba mengelak memijaknya.

Mungkin ini balasan Allah SWT terhadap saya kerana menjauhi-Nya, agama dan ibu bapa saya. Kini saya menyesal. Perkara pertama yang saya akan lakukan selepas menjalani pemulihan adalah pulang ke kampung untuk memohon maaf daripada ibu bapa saya.

Ini kerana mereka berusaha keras, membanting tulang untuk menghantar saya belajar, tetapi saya hampakan mereka dengan menceburi kegiatan yang bukan saja tidak senonoh serta membahayakan diri, tetapi juga merosakkan akidah saya sebagai seorang Islam.

Saya pada mulanya tidak mahu terbabit dengan aktiviti underground (bawah tanah) ini.

Namun, bermula sebagai suka-suka daripada mengikut konsert gig, saya terjebak dengan aktiviti yang merosakkan masa depan saya.

Bagaimanapun, Allah SWT masih sayangkan saya kerana saya berjaya diselamatkan agak awal kerana saya tahu, masih ramai anak muda, terutama orang Islam, yang masih sesat di dalam dunia kumpulan bawah tanah dan dadah sekarang.

Yang menyedihkan, sebahagian besar daripada mereka masih terlalu muda, daripada di bangku sekolah menengah sehingga universiti.”

(^^,).. macam2 kan dunia skang ni..

My dearest ummi, i'm here with you..

Mungkin terpisahkan jarak,
mungkin terlangkaukan waktu,
mungkin terhalangkan impian,
Namun bersatunya hati..

Dedicated to Umi.. Sebuah Lagu dari Warisan



Kau dibuai mimpi dia jaga,
Kau bersenang dia bekerja,
untukmu tiada terbatas,
memberi tak minta dibalas...

Ingin dibinanya untukmu,
kehidupan yang sempurna,
punya kekuatan jiwa,
punyai maruah...

Leterannya dari rasa luhur,
menegur sebelum terlanjur,
itulah yg diwarisi,
pesan ibu terpahat di hati...

Beringat-ingatlah,
berpesan-pesan untuk kebaikan,
Marah bukan kebencian,
tapi tanda sayang..

Engkau semakin dewasa,
berjiwa merdeka,
sedang dia semakin tua,
membilang usia..

Di saat kau berjaya,
Dia tiada berdaya,
SEMOGA KAU TAK LUPA.. JASA BONDA!!

Alhamdulillah, kita dikurniakan satu family yg best kan mi..
Tiada yg macam dekat berita2 atas tu..
Anak2 Umi kan sume ikut cakap umi.. (^^,)..

~Proud to be Anak Ummi~

Sunday, November 1, 2009

Breach itu APEKAH?

Salam,

Tahukah anda?
Apakah itu BREACH?

Breach bukanlah sebuah animasi 'anime' berkaitan manusia dengan dunia shinigami berwatak utamakan seorg berambut oren.. Rasa seronok plak zaman dulu2 tgk anime..
Itu BLEACH ok..!

Breach juga bukanlah bahan peluntur yg digunakan oleh kaum ibu2 dan isteri2 di rumah utk mencuci baju2, kerana peluntur itu juga dinamakan BLEACH!

Breach bukanlah satu tempat yg nyaman di tepinya tersusun pokok2 kelapa dan di persisirannya berpasir indah, dan angin sepoi2 bahasa mendayu2 serta ombak laut menggulung menghiasi pandangan mata.. Itu BEACH!

Habistu apa BREACH ni?

Breach itu adalah ini menurut sebuah e-kamus..

–noun
1. the act or a result of breaking; break or rupture.
2. an infraction or violation, as of a law, trust, faith, or promise.
3. a gap made in a wall, fortification, line of soldiers, etc.; rift; fissure.
4. a severance of friendly relations.
5. the leap of a whale above the surface of the water.
6. Archaic. the breaking of waves; the dashing of surf.
7. Obsolete. wound 1 .

Fahamkah sudah?

BLEACH yg ingin dipersuaikenalkan di sini adalah BLEACH yg ada di no.2 tu..

An infacrtion or violation, as of law, trust ,faith or promise


Maknanya, BLEACH adalah melakukan kesalahan atau kecacatan kepada undang2, kepercayaan atau janji..

Kita kecikkan skop.. BREACHing AMANAH..

Baik kanak2 sekalian.. Perhatikan kedudukan anda.. Artikel ini khusus buat kanak2 yg masih belajar OK! Yang da abis pon bole je baca..

Apakah tugas2 seorang pelajar itu? Apa yang harus dilakukan untuk melengkapkan kewajipan sebagai pelajar? Apakah yang diletakkan ke atas anda sebagai pelajar? Bagaimanakah kepercayaan ibubapa ke atas pelajar dipenuhi?

Setiap pelajar bertugas untuk belajar.. Pelajar Pengajian Islam mengaji agama, pelajar Law mengaji undang, pelajar Medic mengaji perubatan n the list will go on..

But to fulfill this duty, what must be done?

Apakah dengan belajar itu adalah anda menghabiskan sesi kuliah di rumah dan hanya study maut utk sebulan terakhir sebelum exam? Kalau anda mempunyai IQ yg hebat, mungkin anda boleh mendapat mumtaz dengan cara ini, tapi tertunaikah kewajipan anda?

Apakah dengan ponteng kuliah kita boleh mendapat keberkatan guru2 dan ibubapa yg percaya kita sedang mengaji di kuliah sedangkan hakikatnya kita sedang melepak di rumah2 sewa sambil melepak tengok movie, main game atau tidur?

Teringat satu peristiwa baru2 ni, Prof Razali masuk dalam kelas dan mendapati (skema seperti Wan Hilmi) hanya terdapat 27 dari keseluruhan 55 pelajar di dalam kelas.. Yang lain ghaib ditelan angin mungkin.. Wajahnya menampakkan guris2 kekecewaan.. Beliau menyuarakan kekecewaan ini 'YOU HAVE BREACH THE TRUST OF YOUR PARENT! THEY ALL WORK TO EARN YOU MONEY TO STUDY' n adalah dia cakap panjang sket..

Tapi apa yg mencuit hati, apabila beliau menangis, pertama kerana ketidakdatangan pelajar2 ke kuliah, Ke-2 kerana adalah satu masalah yg menyesakkan.. Not to be shown here..

My Dearest Ummi n Abah, I know you fully expecting me to come to every class held for my class.. Yes I do know that, i never want to let you down though.. There are times when the class absentees is way more than those who come, but i try to make sure i'm one of the comers.. Pernah beberapa kali kedatangan kuliah tak sampai 10org, but i'm proud to be one of them.. I'm proud to never escape my kulliyah, i know you never teach me that.. don't you? N i'm grateful that since my first step in this country, i have never been sick YET during class day.. Hamdalillah..

Semoga Allah menetapkan hati ini utk terus thabat ke kulliyah...

Ayo Sahabat seperjuangan! Saksikanlah bahawa langkah2 ke kuliyah ini akan memberi erti dan maknanya kelak.. Dengan niat ikhlas beroleh pahala jua..

Ayo Azhariyun! Walaupon kuliah kalian tidak wajib(especially Dirasat Islami) tapi ayunkanlah langkah kaki ke kuliyah.. Semoga berkat Illahi sentiasa bersama.. takpon korg gi talaqi je kat masjid Azhar tu.. Kata mantap Arab..(^^,).. Eheh..

'Wahai tuhan yang menetapkan hati2 manusia, tetapkanlah hati lemah ini di atas ketetapan agamamu ya Allah, Ameen'


Wassalam

Saturday, September 26, 2009

Maza Ba'da Ramadhan??

Terngiang2 kata2 khatib ketika solat jumaat minggu lepas... Semasa masih berada dalam Ramadhan.. Katanya 'Maza ba'da Ramadhan?' di ulang sampai 3kali.. dan diulas.. Walaupon antara faham dan tidak..

Kalau kita beramal utk Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan datang dan pergi...
Tapi, kalau kita beramal kepada Allah, nescaya Allah itu kekal dan sepatutnya amal kita tetap ada..

Tak wajar seberlalunya Ramadhan, Quran dibiarkan terpelosok di atas rak yg paling tinggi di dalam stor jauh nun di bawah tangga menanti untuk diambil semula dan di bersihkan habuk-habuknya serta dijunjung setinggi2nya setiba Ramadhan yg kemudiannya...

Tak wajar juga kita bangun Qiamullail hampir setiap malam pada malam2 Ramadhan mengikut anjuran Rasulullah 'Man Qoma Ramadhan imanan wahtisaban...(ila akhir hadis), dan sehabis sahaja Ramadhan kita teruskan mimpi di atas tilam2 yg empuk kononnya berehat panjang utk bersedia utk qiam pada Ramadhan2 yg akan datang..

Lebih tak wajar kita menyimpan duit2 kita di dalam bank2 konvensional atau di dalam peti2 besi selepas menderma sedikit sebanyak ketika Ramadhan utk 'Maidah Ar-Rahman' atau dengan kata lainnya menyediakan makanan utk org miskin dan lain2 dengan alasan kerna memuliakan hadis 'Man Fatoro Soiman....(ila akhir hadis)'...

Sahabat Yang dikasihi,

Seorang ikhwah mengibaratkan Ramadhan dalam sebuah kisah...

Pada zaman dahulu, ada seorang pemuda yg tinggal di sebuah kampung.. Dalam kehidupannya, dia beramal dengan agama islam sekadarnya sahaja dan tidak berapa taat dalam beragama.. Dia melalui hari2nya sebagai seorang pemuda biasa, dan menjalani hari2 sebagai seorg yg biasa dengan kehidupan yg biasa..

Sehinggalah pada satu hari, datang seorg wanita berhijrah ke kampungnya, wanita yg tersangatlah cantiknya, membuat pemuda ini sangat la terpikat dengan wanita ini.. Wanita ini juga merupakan seorang yg tersangat lah baiknya... Pemuda ni cuba merapati wanita sedikit demi sedikit ni.. Dan bila cam da bole rapat sket, perempuan ni semakin mentarbiyah lelaki ini dengan ajaran islam yg btol.. Kemudian lelaki ini menjadi seorg pemuda yg beramal dengan agama.. Kira da jadi baik la..

Pada suatu hari yg tiba2, wanita ini ingin berhijrah ke suatu tempat yg jauh dan mungkin tidak akan pulang semula ke kampung tersebut utk satu tempoh yg panjang...

Sekiranya anda menjadi lelaki tersebut, apa yg anda lakukan? Adakah anda akan tinggalkan semua amal2 anda tadi? Maka anda bersamna golongan yg rugi.. Atau anda teros dengan amal anda? Maka anda dalam golongan yg beruntung..

Gadis itu diibaratkan sbg bulan Ramadhan dalam cerita ini, mungkin bukan kias atau analogi yg paling tepat cuma ingin diambil pengajaran yg boleh la...

Semoga selepas2 ni.. Kita semua(termasuk diri sendiri la..) mampu beramal sebagaimana kita beramal pada Ramadhan yg telah berlalu.. Sehingga kita berjumpa Ramadhan yg akan datang.. Dengan itu, ternyata kita telah lulus sbg graduan dalam madrasah Ramadhan! Tp kalau blom, ternyata kita masih perlu muhasabah kan.. Sama la kita.. (-_-)

Friday, August 21, 2009

Dia Datang Lagi..

Dia datang Lagi.. Dia yang dirindui.. Dia yg membawa bersama berita2 gembira.. Dia datang dan turun dari Tuhan yg Maha Mulia, demi menemui pencinta2 kebaikan dalam kalangan umat ini. Pada Karimnya Ramadhan ini, Allah datangkan pelepasan dari api neraka, juga kemenangan yg besar yakni nikmat syurga dan kelazatannya yg tidak pernah putus2.

Berkata Imam hassan Al-Basri R.A. :

"Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan Ramadhan ini sebagai suatu medan supaya hamba2nya berlumba2 dengan ketaatan utk mencapai keredhaan. Oleh yg demikian suatu kaum dlm kalangan hambanya telah berlumba dan mereka berjaya, suatu kaum telah menyendiri dan mereka tidak menyertai perlumbaan itu dan mereka menyesal dengan kekalahan yg mereka alami, tetapi yg menjadi kehairanan adalah seorang dalam kalangan merka dlm keadaan kelalaian dan kealpaan pada hari mana kemenangan bg org yg ihsan terhadap ibadatnya dan juga kekelahan bagi mereka yg lalai dan alpa".


Maka sahabatku, marilah kita berlumba mengejar Dia yg jarang2 datang ini.. Siapa tahu ini Ramadhan kita yg terakhir.. Itupon kalau masih dipanjangkan hayat utk merasai Ramadhan yg bakal tiba dalam sejam lagi.. Ahlan2..

Ingatlah wasiat Ibnu Sirin :

"Jikalau Allah SWT menghendaki kepada seseorang hamba itu kebaikan nescaya Allah akan menjadikan baginya penasihat daripada lubuk hatinya yg sentiasa menyuruh dan melarangnya"


Jom muhasabah dan selamat beramal.. (^^,)

Monday, August 10, 2009

Leh Ya A3mm?

Malam tu, seorg sahabat bertanya kpd setiap yg masih tak balik ke Malaysia lagi..

Kenape tak balik Malaysia tahun ni?


Banyak jawapan kepada persoalan ni.. Antaranya :

1) Nk jalan2 dulu r, kang blek mesia org tanya kat mesir ada ape? Sepatah haram nk jawap kalau tak pnah jalan..

2) Takde duit bro.. Tunggu ada org sponsor tiket..

3) Ntah aa.. malas.. bukan ada ape sangat kat mesia tuh...

4) Mesir ni negara ilmu.. Rugi woo kalau tak kutip ilmu2 para ulama' kat sini.. Talaqqi ke, tafaqquh ke..

5) Aha, tunggu gua dapat mumtaz la tahun depan.. Takat jayyid jiddan malu nk tunjuk kat mak bapak..

Apa alasan yg anda beri sbb tidak balik?

Bagi org seperti saya, sebab no.1 tak penah muncul.. Sbb masa cuti tak pnah pegi jalan2 pon.. Kalau ada pegi mana2 tu pon sbb ada program ikhwah.. Malasnye la kan.. lagi2 musim panas ni.. Dah la ada kuliah, mmg takde masa nk gi..

Sbb no.2, Erm.. mungkin saja boleh diterima, tapi, sebenarnye boleh diusahakan kalau btol nk blik.. Tapi, menyusahkan la.. Baik takyah balik lagi kalau takda keperluan sangat

Sbb no.3, Eheh.. no comment act.. but then.. kat mesia ada umah n femili.. (^^,)

Sbb no.4, Rabbuna maak.. Antara sbb penting juga.. Umi percayakan bglang ke sini bukan utk belajar ilmu dunia je.. Umi suro bglang garap byk2 ilmu sementara masih di sini.. Ummi yg menyanyangi dan disayangi... Wahistani awi(Miss u so much..)..

Sbb no.5, Ada btol juga.. Da la pergi jauh2 blajar.. Tapi takat dapat jayyid atau jayyid jiddan.. takpepon sebenarnye.. tapi tak sedap sangat la.. Still alhamdulillah, syukru lillah.. Kalau dapat straight mumtaz semua subject seperti rakan seskolah di Uni Cairo, Shymaa bagusla.. Tapi, kalau jayyid jiddan cam kitorg ni.. (spt saya n acap).. Fikir 3kali gak..

Apa yang paling penting sebenarnya, adalah kalau perlu baliklah.. Ikut keperluan..

Berkata Ibn Qayyim :
"Ibadah yang paling afdhal ialah beramal berdasarkan keredhaan Allah pada waktu yg mengikut keperluan masa dan tugasnya. Oleh itu ibadah yg afdhal pada waktu jihad adalah berjihad. Sekalipun ia melibatkan amalan sunat yg tetap spt sembahyang malam dan berpuasa ditinggalkan. Bahkan, sekalipun sembahyang fardhu yg sempurna sebagaimana sembahyang ketika aman turut ditinggalkan"


Jadikan balik itu satu ibadah, cari keredhaan Allah pada keredhaan ibubapa.. Ingat lagi blajar masa PMR dulu.. 'Ridhallah fi ridha walidain'..

Semoga Allah menjaga hati2 kita sampai kelak..

Ku Ingin Kembali

Ribuan batu hilang di seberang lautan,
segenap seharian tenggelam di langit biru,
selamat pendaratan di negeri orang,
sejenak kebingungan ilmu tetap diburu...

Kini bertahun sudah hidup berdagang,
Hati selalu rasa digamit kenangan lama,
Ingin segera dicapai segala cita,
Tapi apakan daya masanya belum tiba...

Diri ini memang ingin pulang,
Mengubat rindu pada ayah bonda,
Hati ini memang ingin segera,
Berlabuh di desa nan tercinta...

Tuhan bimbinglah kami, berikan bantuan,
Kami perlu cahaya yg terang sepanjang masa,
Agar tenaga kami tidak sia2,
Kami ingin berbakti kepada umat islam...

Kawan kita harus tanam keyakinan,
Hidup ini bukan untuk diri kita sendiri,
Tapi, untuk Islam dan saudara kita,
Yg dimana2 terhimpit dek derita...